CALVIN YOHANES : SARJANA YANG CINTA KEBENARAN

Jean cauvin, itulah nama sebenarnya tokoh reformasi Yohanes Calvin, yang sering juga disebut John Calvin. Ia dilahirkan di sebuah kota yang terletak antara Belgia dan Perancis, tepatnya di kota Noyon, pada tanggal 10 Juli 1509. Calvin yang lahir dari keluarga yang cukup berada, adalah tokoh reformasi yang sangat gigih, disamping Martin Luther. Pengaruh ajaran dan tata gerejanya sangat dominan di antara aliran protestan di seluruh dunia. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata cara gerejanya disebut Calvinisme. Di Indonesia Calvinisme merupakan golongan gereja yang terbesar.

MASA PENDIDIKAN

Calvin dilahirkan sebagai anak kedua dari enam bersaudara, dari pasangan Gerard Cauvin dan Jeane Lefranc. Ayah Calvin berasal dari keturunan biasa-biasa saja, namun demikian Gerard ayahnya mampu menempatkan diri dalam jajaran tokoh-tokoh berpengaruh di Noyon. Sedangkan ibunya adalah wanita yang amat cantik dan saleh. Sekalipun Jeane ibunya meninggal ketika Calvin masih muda, kesalehan ibunya amat berkesan kepadanya. Calvin bercerita bahwa ibunya amat rajin mengantarkannya mengikuti upacara-upacara keagamaan.

Calvin memulai pendidikannya di Noyon. Ia sangat beruntung karena disamping menimba ilmu di sekolah putera, ia juga mengikuti pendidikan tambahan di rumah keluarga terkemuka Hangest Genlis. Dari tempat itulah ia mulai berkenalan dengan pola hidup orang-orang bangsawan. Akibatnya gaya hidup dan pola pikir Calvin tampak seperti bangsawan.

Karena kejeniusan Calvin, ayahnya Gerard menginginkan Calvin menjadi imam. Pada usia 12 tahun rambut Calvin telah dipotong pendek dalam upacara inisiasi biarawan. Dalam hatinya ia ingin menjadi seorang imam yang beribadat dan berguna bagi Tuhan. Karena itu ia memburu ilmu dengan tekun. Pada tahun 1523 ia memasuki College de la Marche di Paris. Di sinilah Calvin mulai belajar retorika dan bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya dari seorang pakar bahasa Latin yakni Mathurin Cordier. Setelah menguasai bahasa Latin dan sesuai dengan kebiasaan waktu itu di kota Paris, Jean Cauvin menerjemahkan namanya kedalam bahasa Latin menjadi Yoannes Calvinus.

TERLIBAT REFORMASI

Pada tahun 1533, Calvin makin menekuni teologi dan ia dicurigai terlibat dengan pidato yang agak berbau Protestanisme, yang diucapkan oleh Nicolas Cop rektor universitas di Paris. Menurut para kontra reformasi, pidato yang dibawakan oleh Nicolas Cop itu konsepnya disusun oleh Calvin. Dengan demikian hidup Calvin terancam bahaya. Pada bulan april 1534, Calvin berangkat ke Nerac mengunjungi para pengikut reformasi yang dilindungi Ratu Navarra. Calvin juga menjumpai tokoh-tokoh pecinta reformasi yang di segani seperti Lefevre d’ Etaples dan Roussel. Di Nerac Calvin tidak lama tinggal. Pada bulan berikutnya ia mengunjungi Noyon tempat kelahiranya untuk yang terakhir kali karena setelah itu ia harus mencari tempat yang lebih aman karena keadaan di Paris waktu itu sangat berbahaya. Penganiayaan terhadap para pengikut reformasi semakin hebat, apalagi dengan dibakarnya hidup-hidup penginjil Canus de la Croix. Namun demikian Calvin masih memberanikan diri menyusup masuk dekat kota Paris mengunjungi sahabat-sahabatnya di Autevil.

Di setiap tempat yang dikunjunginya Calvin berkhotbah secara rahasia, bahkan ia sering mengadakan perjamuan kudus menurut cara Injil. Di bulan-bulan akhir tahun 1534 golongan reformasi semakin dihambat. Orang-orang reformasi melarikan diri ke Swiss. Calvin juga ikut melarikan diri ke Strassburg, tempat ia diterima dengan hangat oleh Martin Bucer. Kemudian ia ke Besel dan terus ke Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai berbagai nama samaran. Pada musim panas tahun 1535 Calvin berhasil menyelesaikan terbitan pertama dari bukunya yang terkenal Institutio. Tepat pada bulan Maret 1536 Institutio diterbitkan oleh Johanes Oporinus di percetakan Thomas Platter di Basel. Buku ini laku keras dan karena ditulis dalam bahasa Latin, banyak orang terpelajar yang membacanya. Dengan demikian melalui buku Institutio masuklah teologia reformasi ke Perancis. Pada saat Institutio diterbitkan Calvin sudah berada di Italia. Di sana ia mendirikan pusat kehidupan dan pemikiran reformasi dengan mengumpulkan sekelompok orang terpelajar dan seniman di dalam istana Ferara. Tetapi tidak lama kemudian kegiatan ini diketahui oleh seluruh penduduk kota Roma. Istana Ferara diperingatkan oleh Paus agar semua tamu di istana Ferara meninggalkan istana itu. Hal ini sangat melukai hati Renee de France adik raja France I yang melindungi Calvin

Pada bulan Juli 1536 Calvin tiba di Jenewa. Di Jenewa Calvin bersama Farel mengatur gereja reformasi. Mereka merancang sebuah tata gereja yang mengatakan bahwa perjamuan kudus diadakan sebulan sekali dengan peraturan yang amat ketat. Setiap penduduk diwajibkan menandatangi surat pengakuan iman mereka, tetapi hal itu tidak disetujui oleh sebagian besar warga kota. Pada tahun 1538 Dewan Kota dikuasai oleh orang-orang yang tidak setuju untuk menandatangani surat pengakuan itu sehingga Calvin dan Farel diusir dari Jenewa.

MAKIN TEGAR

Mulanya Calvin agak ragu dengan perjuangannya, tetapi saat ia mengetahui bahwa Allah yang memanggilnya, Calvin menjadi tegar dan tidak mundur setapak pun. Calvin juga sangat dikenal kearifannya, ia sanggup dengan cepat dan tepat dalam memberikan petunjuk dan mengambil keputusan. Namun amarahnya bisa tidak mengenal batas bila ada seseorang yang mau menodai kesucian Allah. Bagi dia, anjing pun akan menyalak bila tuannya diserang. “ Saya akan dicap pengecut yang luar biasa, bila saya melihat kebenaran Allah diserang orang dan saya hanya membisu tidak bersuara.”

Memang tidak salah bila John Knox reformator Scotlandia mengatakan,” Calvin telah mengubah Jenewa. Jenewa telah menjadi sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada di atas dunia sejak zaman rasul-rasul. Di tempat-tempat lain, saya akui, memang Kristus diberitakan. Tetapi tata krama dan agama yang begitu direformasikan dengan tulus iklas belum pernah saya lihat di tempat lain. Inilah hasil dari kedisiplinan dan kegigihan Calvin dalam melayani Allahnya.”

AKHIR KEHIDUPANNYA

Pikiran-pikiran Calvin banyak yang dibukukan dan banyak di antaranya merupakan risalah polemis. Apalagi Calvin sangat mampu menulis sindiran setajam Erasmus tokoh yang sangat dikaguminya, menjadikan tulisan-tulisannya begitu menggigit. Calvin juga banyak menulis khotbah-khotbah dan sempat diterbitkan, tetapi sangat disayangkan banyak yang hilang sebab dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawan secara kiloan.

Sampai akhir hidupnya Calvin banyak menulis buku-buku tafsiran yang sangat bermutu, antara lain : Tafsiran Kejadian sampai Yosua, Mazmur, semua tulisan para nabi kecuali Yehezkiel pasal 21 – 48. Untuk Perjanjian Baru Calvin membuat hampir seluruh kitab, tinggal surat I dan III Yo hanes dan Wahyu yang tidak sempat dibuatnya. Di samping itu Calvin juga menulis risalah polemis, karya-karya teologi dan surat-surat yang sifatnya apologetik terhadap kebenaran firman Allah. Calvin juga sempat mendirikan sekolah dan akademi.

Banyak karya Calvin yang dibukukan, tetapi karya paling besar yang pernah lahir di tangannya adalah buku Institutio yang diterbitkan pertama kali di kota Basel. Buku itu di kemudian hari direvisi oleh Calvin dengan menambahkan sejumlah hal yang amat penting. Awalnya Calvin hanya bermaksud untuk membuat katekismus ringkas yang berisikan pedoman bagi orang awam dan teolog. Namun akhirnya Institutio menjelma menjadi buku pelajaran teologi yang besar dan lengkap. Sebuah buku dogmatika yang sulit dicari tandingannya.

Buku Institutio atau “Institusi Agama Kristen” dalam banyak hal mengikuti Katekismus Kecil karangan Martin Luther. Dalam menyusun konsep-konsep teologinya Calvin menganggap Martin Luther sebagai gurunya. Sikap itu tetap dijaga Calvin sekalipun suatu waktu Luther pernah mengeritik Calvin dengan tajam dan pedas.

Untuk Martin Luther, Calvin menulis begini : “Walaupun Luther memanggil saya iblis. Saya tidak akan kurang menghormati dia, sehingga saya harus mengakui dia sebagai hamba Allah yang agung”.

Sekalipun buku Institutio dianggap sebagai karya terbesar Calvin, tetapi puncak dari karya perjuangannya adalah apa yang kita kenal dengan Calvinisme. Ajaran Yohanes Calvin yang terpaket dalam Calvinisme berbicara banyak tentang masalah-masalah teologi yang mendasar. Antara lain tentang Pembenaran dan Prestidinasi, Kehormatan Allah dan Pengudusan Manusia serta Perjamuan Kudus. Termasuk tentang Gereja dan Tata Gereja dan juga Hubungan Gereja dan Pemerintah. Selain itu ajaran Calvin telah menyumbang dengan besar sekali terhadap perkembangan dunia secara menyeluruh. Malah konsepsinya tentang etika Protestan telah memacu manusia mengembangkan kesejahteraan dan perekonomian dunia.

Banyak sekali pekerjaan yang telah dibuat Calvin tanpa mengenal lelah dan waktu, ia nanti berhenti setelah keganasan penyakit TBC merengut nyawanya pada tanggal 27 Mei 1562. Satu hal yang amat disayangkan oleh Calvin adalah ia tidak dikaruniai seorang anak pun. Namun begitu ia tetap bersyukur sebab hasil reformasinya telah memberikan kepadanya anak-anak rohani yang sangat banyak.

Calvin kini telah tiada, bahkan telah berabad-abad lalu. Ia sangat patut diteladani sebab ia begitu gigih menegakkan kebenaran Kristus sekalipun maut selalu mengintainya. Saat ini gereja mulai kehilangan kebenaran Kristus yang sejati, dan mulai di gerayangi sekularisme, barangkali semangat Calvin dalam membela kebenaran patut kita teladani untuk menciptakan reformasi menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali. (RNA)