GOOD THINGS
sobat obor, pernakah menerima dan merasakan hal yang tidak baik? Pasti pernah! Pernah dikhianati, pernah dibohongi, pernah disepelehkan, pernah dihina-caci maki, pernah dijauhi, pernah disakiti, dan mungkin banyak hal lain lagi yang membuat kita tidak merasa baik. Namun ketahuilah dari hal-hal yang tidak dianggap baik inilah, kadang memunculkan sesuatu yang baik, diakhir cerita (baca: kisah inspiratif).
Dalam hidup ini, banyak hal yang membuat kita tidak merasa baik, hampir tiap hari, ita di rongrong oleh kekhawatiran. Sebagai pemuda-pemudi, masalah pergaulan, cita-cita, pekerjaan, pendidikan, keluarga bisa membuat kita tidak merasa baik. Putus cinta, contoh yang menyakitkan. Tapi putus cinta juga, adalah salah satu indikator yang akan membuat kita kuat: bermental baja dan membentuk karakter yang tangguh, jika di hadapi dengan baik, tabah dan mengandalkan Tuhan. Sehingga, contoh menyakitkan ini, akan memberi feedback yang positif, jika dihadapi dengan benar.
Sobat obor, setiap kita tentunya sudah pernah merasakan kebaikan Tuhan. Kita ada sampai dengan saat ini dalam keadaan yang baik tanpa kekurangan suatu apapun, juga merupakan salah satu anugerah serta kebaikan Tuhan yang patut kita syukuri. Bahkan sedikit atau banyak kita semua pasti pernah mendapatkan anugerah dari Tuhan, apakah itu berupa kesembuhan, berkat ataupun pertolongan Tuhan yang lain, sebab Yesus yang kita sembah adalah Tuhan yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan. Kebaikan terbesar yang Tuhan nyatakan yaitu ketika Ia rela mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib bagi keselamatan umat manusia, dan tidak ada yang dapat menandingi kebaikan Tuhan. Oleh sebab itu, setiap hari kita perlu bersyukur atas kebaikan yang Tuhan nyatakan. Jangan pernah mengeluhkan kondisi yang kita alami, sebab ketika kita dapat bersyukur kita akan dapat melihat kebaikan Tuhan yang lebih besar lagi.
Good Things merupakan suatu frasa sederhana yang akan menguraikan segala hal tentang kebaikan; hal-hal baik yang dari Tuhan. Mazmur 34:9 “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu”, menyatakan bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang baik untuk kita rasakan (kecaplah) dan saksikan (lihatlah). Artinya setiap hari kita perlu untuk senantiasa menghitung, mengingat bahkan mengenal kebaikan yang sudah Tuhan nyatakan, supaya kita tidak gampang menjadi kecewa atau pesimis dalam menjalani kehidupan ini. Kita perlu menyadari bahwa dalam keseharian hidup ini ketika kita dapat bangun dengan keadaan yang sehat itupun merupakan wujud kebaikan Tuhan bagi kita. Sekalipun nampaknya sederhana, hal itu menunjukkan bahwa Tuhan tetap menyertai kita. Maka, kita diajak untuk bersyukur pada hal-hal sekecil apapun itu. Karena dari situlah, kita akan dihantar dalam kebiasaan yang baik, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi.
Ada suatu kesaksian kecil yang disaksikan oleh seorang ibu muda. Dalam ceritanya, ibu tersebut merasakan kebaikan Tuhan dalam hidupya dengan cara yang sangat sederhana. Begini kisahnya: Sementara memasak MPASI (Makanan Pendamping ASI) menu ikan bagi bayinya, dengan penuh kekhawatirannya Ibu ini berguman: “Ya Tuhan, kiranya tidak ada tulang yang ikut dalam proses memasak ini” (sambil mengeluarkan tulang-tulang kecil untuk dimasak). Karena tentu, jika ada tulang kecil yang ikut dan termakan bayi, bisa membahayakan bagi bayinya. Setelah yakin bahwa ikan yang dimasakn tanpa tulang, ia pun menyajikannya dalam 3 porsi kecil. Kebaikan Tuhan pun nampak dalam proses makan si bayi dalam beberapa kali makan. Porsi pertama (disuapi Oma): tidak ada keluhan, tanpa tulang. Porsi kedua (disuapi ayah): ditemukan tulang kecil. Prosi ketiga (disuapi ibu) : ditemukan tulang sangat kecil. Betapa kebaikan Tuhan dinyatakan dalam ditemukannya tulang-tulang kecil pada makanan bayi. Si ibu terharu dan berterima kasih kepada Tuhan, untuk tulang-tulang kecil yang ditemukan pada makanan bayi. Ia sangat merasakan kebaikan Tuhan dalam dirinya dan bayinya. Cerita sederhana, namun menjadi besar dan berarti bagi sang ibu.
Sobat obor, bagaimana dengan cerita kita? Adakah cerita kebaikan Tuhan yang dialami, atau hanya dirasakan ketika ada hal besar yang nampak/terjadi? Sadar atau tidak, kita pasti memiliki cerita-cerita kebaikan Tuhan yang mungkin kurang istimewa bagi orang lain, namun sangat berarti bagi diri kita. Dengan demikian, kita harusnya memahami bahwa, Tuhan menyediakan segala hal baik disekitar kita. Maka dait itu, saat kita sudah mengenal kebaikan Tuhan, maka kita tidak akan cemas lagi dengan hidup ini, sebab Tuhan pasti menyatakan kebaikan demi kebaikan-Nya bagi kita. Begitu juga dengan setiap kebutuhan hidup, kita tidak perlu kuatir sebab Yesus sudah menyediakan setiap kebutuhan kita. Filipi 4:19 menuliskan bahwa Tuhan akan memenuhi setiap kebutuhan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya. Dia adalah Tuhan yang baik dan yang memiliki segalanya. Mereka yang mengenal kebaikan Tuhan akan selalu berharap hanya kepada-Nya, sebab Dia dapat selalu diandalkan. Jika saat ini Tuhan sudah menyatakan kebaikan-Nya, kita harus memiliki iman bahwa sepanjang umur kita, Tuhan akan tetap melanjutkan kebaikan-Nya, sebab kasih setia Tuhan tidak berubah serta tetap ada untuk selama-lamanya.
Selanjutnya, kebaikan yang kita rasakan, kiranya berdampak bagi sekitar kita, keluarga, sahabat, rekan kerja, kekasih hati, orang yang menjumpai dan yang kita jumpai, serta berdampak bagi lingkungan, dimanapun kita berada. Kebaikan itu akan menjadi bagian berkat bagi setiap orang, sehingga dengan keberadaan kita, orang lain dapat merasakan berkat dan kebiakan Tuhan. Senyuma, teguran, nasehat, bahasa tubuh dapat menjadi alat kebaikannya untuk sekitar kita. Lantas, bagaiman dengan orang yang menyakiti kita/musuh? “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah” (3 Yohanes 1:11b). Kita berbuat baik, agar orang lain yang melihat perbuatan baik kita, dapat memuliahkan Bapa yang di sorga (Matius 5:16), menjadi ayat Alkitab yang dapat memotivasi kita untuk tetap berbuat baik bagi sesama. Biarlah kita mau untuk terus melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama tanpa memusingkan diri terhadap pujian dan penghargaan dari manusia, sekalipun hal-hal yang baik yang kita lakukan tidak dihargai oleh orang lain. Karena Tuhan tidak pernah tutup mata. Dia akan menghargai dan memberikan kita upah kepada orang-orang yang dengan setia menjalankan tugas dan panggilan-Nya dengan sebaik-baiknya. Begitupun dalam pelayanan gereja, melakukan pekerjaan, menjalani pendidikan, dan pergaulan, kita harus menjadi alat kebaikan-Nya. Tidak ada istilah “rugi” ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai. “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,” (Amsal 11:17). Sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup. Karena hal-hal baik telah diberikan Tuhan bagi kita yang percaya. Marilah mulai hari ini mengisi hidup dengan ucapan syukur agar dapat melihat kasih dan kebaikan Tuhan. Walaupun banyak persoalan yang terjadi, percayalah bahwa kebaikan Tuhan melebihi setiap masalah dan Ia pasti memberikan pertolongan-Nya bagi kita. God is good all the time. Amin

