Siapakah Yang Diselamatkan? | LUKAS 18 : 18 – 27 | Pdt. Deni Leiden Waljufri, S.Th
Sorang yang mendengar percakapan Yesus dengan seorang obat obor, pertanyaan di atas adalah pertanyaan dari banyak pemimpin. “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Terang saja mereka kebingungan karena Yesus memberikan sebuah syarat yang sepertinya mustahil dilakukan oleh manusia pada waktu itu. “Juallah segala yang kau miliki dan bagi- bagikanlah itu kepada orang- orang miskin…”. Dituturkan dalam perikop ini ketika orang itu mendengar perkataan Yesus ia menjadi sedih karena ia sangat kaya. Kalau syarat ini juga dikenakan kepada kita para pemuda Kristen saat ini, apakah ada di antara kita yang bisa menyanggupi permintaan Tuhan Yesus ini?
Dalam bacaan ini, pemimpin adalah seorang yang tentu saja kaya. Sudah baik kelihatannya ketika ia datang kepada Yesus dan hendak bertanya kepada-Nya. Mengingat kedudukannya sebagai pemimpin dan harta yang ia miliki, jarang orang seperti dia yang mau bertemu apalagi bertanya kepada Yesus. Tapi apakah motivasinya betul-betul ingin bertanya atau sekedar menguji dan menyombongkan diri? Jelas bahwa dia seorang pemimpin, mungkin pemimpin agama atau masyarakat. Seorang pemimpin Yahudi tentu tahu dengan sedetail- detailnya ajaran Yahudi. Mereka juga adalah pelaku Taurat yang setia. Bisa saja dia sudah menebak jawaban Yesus. Melakukan Taurat adalah syarat untuk memperoleh hidup yang kekal, karena demikian yang diperintahkan Tuhan bagi orang Yahudi. Dan ternyata benar: Yesus berkata demikian. Maka, dengan bangganya ia akan berkata bahwa, ia telah menuruti itu sejak masa mudanya. Pemimpin itu sebenarnya sedang menelanjangi dirinya sendiri. Karena dia merasa dia sudah sempurna dan merasa dia sudah berhak atas hidup yang kekal itu. Yesus selanjutnya mengemukakan satu syarat lagi: Juallah hartamu dan bagikan! Oh, syarat apaan ini? Pemimpin itu tak pernah menduganya. Tak mungkin melakukan hal itu. Melakukan hukum- hukum agama secara aturan agamawi tentu saja bisa, tapi menjual seluruh milik adalah hal yang mustahil.
Apa sebenarnya yang Yesus maksudkan tentang menjual harta. Apakah Tuhan Yesus berharap kita tak punya apa- apa lagi untuk mengikut Dia? Bagaimana dengan kebutuhan makan dan operasional pelayanan? Sebenarnya Yesus tahu bahwa pemimpin ini berharap akan hidup yang kekal, menginginkan keselamatan dari Allah, tapi ia tidak betul- betul menempatkan harapan itu yang utama. Hatinya bercabang dengan menggantungkan hidupnya kepada harta dunia. Hidupnya terasa aman dengan harta dunia, dan ia tak sungguh- sungguh mengharapkan keselamatan sorgawi itu. Hukum Taurat yang mengatur relasi dengan sesama mungkin ia sudah berusaha lakukan sepenuhnya, tapi bagaimana hubungannya dengan Tuhan? Kecintaannya pada harta duniawi menunjukkan bahwa hartanya menempati urutan pertama dan utama dalam hidupnya. Esensi Taurat adalah relasi manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Relasi yang benar dengan Tuhan berarti menjadikan Tuhan yang utama dan berserah kepada-Nya. Pemimpin kaya ini berarti tidak bersungguh- sungguh melakukan Taurat seperti pengakuannya. Ia berpikir hartanya adalah sandaran hidupnya. Padahal perikop sebelum bacaan ini Tuhan Yesus dengan terang terangan menyebut: “Biarkanlah anak- anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang- halangi mereka, sebab orang- orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah”.
Sobat obor, kita sering kali mengucap syukur ketika Tuhan memberikan berkat materi berupa harta. Harta juga sering kita minta dan kita anggap sebagai berkat Tuhan. Tapi hati-hati, harta juga bisa menjadi penghalang seseorang untuk menerima keselamatan. Sesungguhnya keselamatan adalah anugerah Tuhan semata. Bagi orang yang percaya Tuhan Yesus sebagai juruselamat merekalah penerimanya. Maka, tuntutan bagi kita adalah menjadikan Tuhan Yesus yang utama dan pertama. Harta ternyata sering kali menggesernya. Bukan soal hartanya sebenarnya, tetapi hati yang berpaut kepada harta itu. Mari lihat prioritas hidup kita. Apakah relasi dengan Tuhan yang utama atau kita lebih bersandar pada cinta harta? Semoga Tuhan menolong kita. Amin (DLW)

