Johann Nicolaas Wiersma
Johann Nicolaas Wiersma bekerja sebagai seorang pekabar Injil di daerah Ratahan. Ia memulai pekerjaannya disana pada tanggal 23 November 1862. Daerah pelayanan di Ratahan cukup berat sebab waktu J. N. Wiersma tiba di Ratahan, kekafiran di sana masih sangat kuat pengaruhnya terhadap penduduk. J. G. Schwarz sendiri merasa kesulitan mengadakan pelayanan di Ratahan, bahkan Pendeta Nicolaas Graafland yang pernah mengelilingi Tanah Minahasa pernah merasakan betapa sulitnya hidup di antara orang-orang yang setengah Kristen dan kafir.
Sekalipun keadaan di daerah Ratahan cukup sulit, tetapi karena Pendeta J. N. Wiersma telah bekerja dengan penuh gairah dan sangat rajin, apa yang dilakukannya ternyata tidak sia-sia. Kemajuan pelayanan Injil di Ratahan mulai bergerak maju walaupun kesulitan tetap dirasakan.
Pendeta J. N. Wiersma bekerja di NZG dari tahun 1862 sampai tahun 1881 di Minahasa dan kemudian dari tahun 1881 sampai 1886 menjadi Pendeta pembantu di Gereja Protestan Indonesia. J. N. Wiersma termasuk salah seorang Zendeling yang memiliki idealisme tinggi dalam pelayanan sehingga pada tahun1899 ketika NZG hendak mengadakan dana pensiun, J. N. Wiersma adalah seorang yang sangat gigih menentangnya. Alasannya, sebagai seorang Zendeling ia tidak perlu memperhitungkan nasibnya di masa mendatang mengingat Sang Juru Selamat sendiri telah mengatakan bahwa: “Janganlah kamu khawatir tentang hari esok’’.
Menurut J. N. Wiersma, jika para Zendeling mendapatkan dana pensiun, itu berarti martabat pelayanan seorang Zendeling akan merosot menjadi suatu jabatan seperti pegawai negeri yang memberi hak atas pensiun. Padahal menurut Pendeta J. N. Wiersma seorang pelayan itu sangat berbeda dari seorang pekerja. Seorang “pelayan” memberi dari perbendaharaan hidupnya sedangkan seorang “pekerja” karena mengharapkan imbalan gaji dari apa yang telah dilakukannya.
Pdt. J. N. Wiersma selain sebagai seorang pekabar Injil yang sangat gigih ia juga sangat berminat dalam hal pendidikan malah pendidikan baginya merupakan ujung tombak bagi misi, peradaban dan kemajuan di Tanah Minahasa. Dalam salah satu catatan laporannya J. N. Wiersma mengatakan keyakinannya tentang hakikat pendidikan sebagai berikut: “Sekolah-sekolah itu merupakan suatu berkat bagi orang Minahasa. Para guru bagaikan alat yang ampuh di tangan kita, mereka itulah penopang penopang kehidupan rohani kita”.
Menurut Wiersma, hanya melalui pendidikan dan penginjilanlah rakyat dapat mencapai suatu tingkat kehidupan dan perkembangan, sehingga mereka dapat menduduki tempatnya dalam jajaran masyarakat bangsa serta dapat hidup semakin harmonis dalam menyesuaikan diri dengan alam yang kondusif di mana mereka hidup. (RNA)

